
Jika ada satu kata yang sering dilekatkan pada Desa Kutajaya, maka kata itu adalah religius.
Julukan ini bukan tanpa alasan. Dengan 24 sarana ibadah, mulai dari masjid jami hingga musholla, aktivitas keagamaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Kegiatan keagamaan tidak hanya berlangsung pada hari besar, tetapi juga menjadi rutinitas yang memperkuat ikatan sosial.
Visi Desa Kutajaya, mewujudkan desa yang sejahtera, berkarakter, mandiri, dan religius, menjadi arah utama pembangunan.
Nilai religius ini berjalan seiring dengan upaya kemandirian desa dalam mengelola potensi dan sumber daya yang ada.
Kemandirian tersebut terlihat dari berkembangnya UMKM lokal, seperti dodol, wajit, semprong, dan aneka kue basah yang telah dikenal luas.
Produk-produk ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga identitas desa.
Kepala Desa Kutajaya, H. Udin Suherman, menegaskan bahwa pembangunan desa tidak hanya diukur dari beton dan aspal, tetapi dari karakter masyarakatnya.
Kutajaya berupaya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai-nilai luhur yang diwariskan.
Religius dan mandiri bukan sekadar slogan. Di Kutajaya, keduanya hadir dalam kehidupan sehari-hari warga, membentuk desa yang terus bergerak maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Editor : MdE Kutajaya