Kutajaya, Desa yang Tumbuh dari Kebersamaan

Tidak semua desa lahir dari perencanaan besar. Sebagian tumbuh dari kebutuhan, kebersamaan, dan semangat masyarakatnya.

Desa Kutajaya adalah salah satunya. Berdiri sejak tahun 1982 sebagai hasil pemekaran dari Desa Pasawahan, Kutajaya perlahan membentuk jati dirinya sendiri.

Awalnya hanya wilayah yang berkembang, kini Kutajaya menjelma menjadi desa dengan aktivitas pemerintahan, sosial, dan ekonomi yang terus bergerak mengikuti zaman.

Kepala Desa Kutajaya, H. Udin Suherman, sering menyampaikan bahwa kekuatan utama desa bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi pada rasa memiliki warganya.

Desa ini bukan sekadar wilayah administratif, melainkan rumah besar bagi lebih dari dua puluh ribu jiwa yang hidup berdampingan dengan nilai kebersamaan.

Secara administratif, Desa Kutajaya berada di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Letaknya strategis, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor di sebelah utara, Desa Pasawahan di selatan, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di barat, serta Desa Benda di sebelah timur.

Posisi ini menjadikan Kutajaya sebagai desa dengan karakter alam sekaligus aktivitas masyarakat yang dinamis.

Dengan luas wilayah mencapai 640 hektare, Kutajaya menaungi 5 dusun, 7 RW, dan 47 RT. Jumlah penduduknya tercatat sebanyak 22.341 jiwa, terdiri dari 11.664 laki-laki dan 10.851 perempuan, dengan 7.314 kepala keluarga.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kehidupan yang terus berjalan setiap hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kutajaya dikenal sebagai desa yang religius dan berkarakter.

Hal ini sejalan dengan visi desa, yaitu mewujudkan desa yang sejahtera, berkarakter, mandiri, dan religius.

Nilai tersebut tercermin dari aktivitas sosial, keagamaan, hingga pola gotong royong yang masih terjaga.

Desa Kutajaya juga memiliki berbagai sarana pendukung kehidupan warga.

Tercatat terdapat 19 sarana pendidikan dari PAUD hingga SMA, 24 sarana ibadah, 20 sarana kesehatan, serta 1 unit sarana olahraga berupa lapangan sepak bola yang menjadi pusat aktivitas pemuda.

Kutajaya bukan desa yang berdiri diam. Ia terus bergerak, bertumbuh, dan beradaptasi.

Dari sejarah pemekaran hingga wajahnya hari ini, Kutajaya adalah contoh bagaimana sebuah desa membangun masa depan dengan tetap berakar pada nilai kebersamaan.

Editor : MdE Kutajaya

Tinggalkan komentar