Jejak Awal Kutajaya yang Jarang Diceritakan

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Desa Kutajaya lahir dari sebuah keputusan penting di awal dekade 1980-an.

Tahun 1982 menjadi titik awal perjalanan desa ini sebagai wilayah mandiri setelah mekar dari Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug.

Sekretaris Desa Kutajaya, Ahmad Nawawi, menjelaskan bahwa pemekaran tersebut didorong oleh kebutuhan pelayanan masyarakat yang semakin berkembang.

Wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang terus bertambah membuat pemekaran menjadi solusi agar pelayanan pemerintahan bisa lebih dekat dan efektif.

Pada masa awal berdirinya, Kutajaya masih sangat sederhana.

Infrastruktur terbatas, sarana umum belum sebanyak sekarang, dan aktivitas pemerintahan dijalankan dengan sumber daya yang ada.

Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh semangat gotong royong yang kuat di tengah masyarakat.

Nama Kutajaya sendiri menjadi simbol harapan. Kata jaya dimaknai sebagai cita-cita untuk maju dan berkembang.

Harapan itu bukan hanya milik pemerintah desa, tetapi juga masyarakat yang sejak awal ikut membangun desa ini bersama-sama.

Seiring waktu, Kutajaya mulai mengalami perubahan. Pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, dan ibadah dilakukan secara bertahap.

Wilayah dusun mulai tertata, struktur pemerintahan desa semakin lengkap, dan pelayanan publik menjadi lebih terarah.

Hingga hari ini, jejak sejarah itu masih terasa. Nilai kebersamaan dan musyawarah yang menjadi dasar pemekaran desa tetap hidup dalam pengambilan keputusan pembangunan.

Kutajaya tidak melupakan asal-usulnya, justru menjadikannya pijakan untuk melangkah ke depan.

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Bagi Kutajaya, sejarah adalah pengingat bahwa desa ini dibangun oleh semangat masyarakatnya.

Dari sebuah pemekaran, lahirlah desa yang kini terus menata masa depan dengan tetap menghormati perjalanan awalnya.

Editor : MdE Kutajaya

Tinggalkan komentar